Tamasya Ke Yogyakarta: 3 Lokasi Wisata yang Sangat “Tradisional”

By | Januari 17, 2018

Saatnya liburan guys.. Kali ini kita akan bersantai di Yogyakarta tercinta. Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun internasional. Yogyakarta mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Selain karena kotanya yang indah, orang-orang banyak mengunjungi Yogyakarta karena nilai tradisi yang masih dipegang erat oleh mayarakat sekitarnya.

Yogyakarta tamasya unik

Bila Anda tertarik untuk berwisata sekaligus menikmati tradisi wilayah Yogyakarta, Anda bisa mengunjungi tempat berikut.

1. Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo ini adalah pasar tertua di Kota Yogyakarta. Pasar ini memiliki sejarah yang tidak bisa dipisahkan dengan Kraton Yogyakarta. Secara harfiah, Bering harjo bisa diartikan sebagai hutan pohon beringin yang diharapkan bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Yogyakarta.

Pada awalnya, wilayah Pasar Beringharjo ini adalah hutan beringin. Tidak lama setelah Kraton Yogyakarta berdiri, wilayah tersebut dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta tepatnya pada tahun 1758. Setelah ratusan tahun berlalu, pada 24 Maret 1925 Kraton Yogyakarta memerintahkan Nederlansh Indisch Beton Maatschappiji untuk membangun los-los pasar disana yang selesai pada akhir Agustus 1925.

Pasar Beringharjo memiliki nilai sejarah dan juga filosofis yang berlaitan dengan Kraton Yogyakarta karena telah melewati 3 masa, yaitu masa kerajaan, penjajahan dan kemerdekaan. Pembangunan Pasar Beringharjo pun merupakan salah satu bagian dari rancang bangun pola tata kota Kesultanan Yogyakarta yang disebut Catur Tunggal. Pola ini adalah pola tata kota yang mencakup e hal dengan Kraton Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan, dan dikelilingi oleh alun-alun, masjid dan pasar.

Pasar Beringharjo mempunyai ciri bangunan yang khas yaitu perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa dengan kolonial. Pasar ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu barat dan timur. Pintu masuk bagian barat tepat menghadap jalan Malioboro, jalan yang juga banyak dikunjungi wisatawan karena beraneka macam kuliner dan barang-barang lain tersedia disana.

Di dalam Pasar Beringharjo, Anda bisa menemukan berbagai macam koleksi batik mulai dari batik kain maupun yang sudah jadi pakaian. Tentu saja Anda juga bisa menemukan batik dari berbagai bahan mulai dari katun hingga sutra. Selain batik, Anda juga bisa menemukan aneka rempah-rempah.

Rempah-rempah ini dijual di lantai dua pasar bagian timur. Tempat ini merupakan pusat penjualan bahan dasar jamu jawa. Namun, rempah-rempah lain pun tersedia juga disini. Selain itu, di Pasar Beringharjo Anda bisa menemukan aneka barang antik.

Pusat penjualan barang antik berada di lantai 3 bagian timur. Dan yang tak kalah penting dari barang-barang yang disebutkan di atas, Anda bisa menemukan berbagai macam jajanan Pasar khas Kota Yogyakarta. Jajanan pasar seperti kue kipo (terbuat dari tepungketan lalu dibakar), pecel urap, mendut dan mega mendhung, legomoro (terbuat daru beras ketan yang diisi daging yang dicacah).

2. Tugu Yogyakarta

Tugu Yogyakarta adalah sebuah monumen atau tugu yang dipakai sebagai simbol dari kota Yogyakarta. Tugu ini berbentuk bulat panjang dengan bola kecil dan ujung yang runcing di bagian atasnya. Tugu ini dibangun oleh pemerintah Belanda setelah tugu sebelumnya runtuh karena gempa.

Tugu yang sebelumnya bernama Tugu Golong-Gilig yang dibangun oleh Hamengkubuwana I (pendiri Kraton Yogyakarta). Tugu Yogyakarta terletak di perempatan jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang sifatnya magis untuk menghubungkan dengan laut selatan.

Konon, pada saat itu, Sultan Kraton Yogyakarta menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi. Saat ini, tugu Yogyakarta merupakan salah satu objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Tugu Yogyakarta juga dikenal dengan nama Tugu Pal Putih karena cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih.

Bila Anda melihat ke arah utara dari Kraton Yogyakarta, Anda akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jalan Margo Utomo, Tugo Yogyakarta dan Jalan A.M. Sangadji akan membertuk satu garis lurus ke arah puncak gunung merapi.

3. Kraton Yogyakarta

Kraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi tepat di jantung kota Yogyakarta. Walaupun kesultanan Yogyakarta telah secara resmi bergabung dengan Negara Indonesia, tetapi komplek tersebeut masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini.

Kraton Yogyakarta ini merupakan salah satu objek wisata favorit untuk didatangi di Kota Yogyakarta ini. Bahkan Kraton Yogyakarta merupakan salah satu tempat yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang. Sebagian Komplek Kraton merupakan musem yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan.

Pemberian tersebut termasuk barang-barnag pemberian raja-raja Eropa, replika pusaka Kratin, kereta kencana dan gamelan.

Kraton Yogyakarta adalah salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik dengan beberapa balairungnya yang mewah serta lapangan dan paviliun yang luas. Kraton Yogyakarta ini didirikan pada tahun 1755 oleh Sultan Hamengku Buwono I. Konon, lokasi Kraton Yogyakarta ini adalah bekas sebuah pesanggrahan yang bernama Garjitawati dan digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri.

Bila Anda tertarik mengunjungi Kraton Yogyakarta ini, Anda bisa menikmati wisata sejarah dengan melihat berbagai macam koleksi bersejarah Kraton Yogyakarta. Selain itu, Anda juga bisa berfoto di dalamnya dengan membayar tiket izin terlebih dahulu. Setiap hari, ada pagelan seni yang ditampilkan di dalam Kraton Yogyakarta. Anda bisa menikmati pagelaran seni tersebut sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh Kraton.

Itulah 3 wisata tradisional yang bisa Anda nikmati ketika berkungjung ke kota Yogyakarta. Dengan tradisinya yang masih kental, dan kearifan lokal yang masih tinggi, Anda akan merasakan pengalaman berbeda di kota Yogyakarta ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *