Apakah Batam yang Dekat dengan Singapura Layak dijadikan Target Investasi Tanah?

By | Desember 10, 2017

Di tahun 2015 dan 2016 Batam banyak digembar-gemborkan sebagai kota yang menggiurkan untuk diinvestasikan. Pertumbuhan bisnis di Batam berkembang pesat selang satu tahun pasca peresmian integrasi kawasan ekonomi regional Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

batam Singapura investasi tanah

Harga properti di Batam pun perlahan naik. Walaupun masih bisa dikatakan harga properti di Batam jauh lebih murah daripada di Singapura atau Johor.

Untuk hunian apartemen saja, harganya bisa berbeda sekitar 8 sampai 10 kali lipat. Bukan tanpa alasan developer – developer besar berani mengembangkan kota Batam ini, karena potensi kenaikan harga properti di Batam memang sudah diprediksi oleh developer – developer besar tersebut.

Batam adalah daerah yang sedang tumbuh dan memiliki infrastruktur yang baik. Secara geografis pun letak Batam yang dekat dengan Singapura menjadi daya tarik tersendiri dan juge merupakan kelebihan kota Batam, dibanding kota lain.

Kota Batam juga masih menyediakan properti residensial dengan harga di bawah Rp 1 Milyar, kondisi yang tidak mungkin bisa ditemukan di wilayah Singapura ataupun Johor.

Jarak antara Batam dan Singapura yang hanya sekitar 25km pun menjadi salah satu alasan mengapa bisnis properti di Batam kian menanjak. Selain dekat dengan Singapura, jarak tempuh keJohor Bahru Singapira pun tidak jauh, bisa ditempuh dengan 20 menit berkendara dengan bis.

Lokasi yang strategis inilah yang menjadi alasan developer meluhat adanya potensi emas bagi kota Batam untuk dikembangkan. Hal ini tentu langsung dimanfaatkan oleh segelintir pengembang, seperti Agung Podomoro Land.

Batam yang merupakan etalase Indonesia di ASEAN, mendorong para developer untuk ikut membangun properti di wilayah Batam. Misalnya saja APL yang membangin superblok pertama di Batam yang diberi nama Orchad Park.

Superblok ini menawarkan pemandangan ke laut sekaligus ke taman terbuka hijau. Orchard Park ini terdiri dari 2 tower yang masing-masing memiliki 26 lantai. Selain Orchad Park, APL juga membangun Rumah Tapak, yaitu rumah hunian yang dibandrol dengan harga dibawah Rp 1 Milyar.

Ada juga Pasir Putih Residence yang menawarkan rumah hunian di Batam, dengan harga berkisar di antara Rp 800 jt-an sampai Rp 1 Milyar. Pasir Putih Residence dilengkapu dengan fasilitas-fasilitas memadai seperti taman, keamanan 24 jam, trek jogging, dan lainnya.

Permintaan tempat tinggal di Batam datang tidak hanya dari warga lokal, tetapi juga dari warga ekspatriat. Hal ini juga dipengaruhi karena Singapura memperketat kebijakan kepemilikan properti bagi warga Asing.

Karena alasan itulah, banyak permintaan datang agar pembangunan residensial di Batam terus dikembangkan. Tentu saja alasannya karena jarak tempuh ke 2 negara tersebut yang tidak begitu jauh, dan juga karena harga properti di Batam lebih murah. Bahkan bila dibandingkan dengan harga properti di Jakarta, harga properti di Batam masih lebih murah.

Namun ada polemik yang saat ini sedang terjadi di Batam. Berdasarkan berita yang dilansir di detik.com pada maret 2017 lalu, ada sekitar 7.200 hektar lahan yang tersebar di wilayah Bayam dibiarkan terlantar oleh pihak – pihak yang telah diberikan hak pengelolaan (HPL) lahan selama bertahun – tahun.

Lahan – lahan tersebut merupakan milik investor yang tak kunjung figarap pengerjaannya. Hal ini menyebabkan proses pengembangan kota Batam menjadi terhambat karena tidak ada lahan baru yang tersedia untuk menampung investasi baru.

Ketidaktersediaan lahan tersebut menyebabkan salah satu jalan yang bisa ditempuh oleh investor baru adalah dengan cara membeli hak pengelolaan lahan dari investor yang lama.

Tetapi tentu saja cara ini mempunyai resiko karena dana yang harus dikeluarkan untuk investasi tersebut menjadi lebih mahal. Kenapa? Karena pembelian hak ini bukan dibeli dari tangan pertama (Pemerintah). Selain cara yang pertama, masih ada cara lain yang bisa ditempuh oleh investor baru, yaitu dengan menunggu habsinya masa hak pengelolaan (HPL) lahan dari pemilik lama.

Tetapi cara ini juga tidak bebas resiko. Investor baru harus menunggu waktu yang bisa jadi masih cukup lama. Resiko lainnya adalah beban investasi yang membengkak seiring dengan seiring dengan inflasi yang terjadi selama menunggu habisnya HPL pemilik lama.

Permasalahan tersebut sedang ditangani oleh Badan Pengelola Batam dengan memanggil setiap pemilik persil lahan dan diminta untuk berkomitmen dalam melaksanakan pembangunan.

Apabila terbukti tidak melaksanakan komitmen tersebut, hak pengelolaan tanah akan ditarik atau pemilik tanah didorong untuk melakukan kerja sama dengan investor baru yang ingin berinvestasi.

Dengan cara yang ditempuh oleh Badan Pengelola Batam tersebut, diharapkan akan ada lahan yang tersedia untuk menampung investor baru yang lebih serius dan berkomitmen untuk mengembangkan kota Batam.

Badan Pengelola Kota Batam tentunya tidak main – main dalam permasalahan ini. Bila pemilik HPL yang lama benar – benar ingin meneruskan pembangunannya, mereka harus memperlihatkan bukti keseriusan mereka serta memperlihatkan kemampuan finansial mereka.

Poin utamanya adalah agar lahan yang tersedia di Batam bisa dimanfaatkan, bukan hanya terbengkalai tidak terpakai. Dengan masuknya investor – investor baru yang lebih serius, diharapkan akan ada kemajuan di kota Batam dengan terbukanya lapangan pekerjaan yang bisa menyumbang pergerakan ekonomi di kota Batam.

Bisa disimpulkan bahwa sebenarnya potensi berinvestasi di Batam sangat bagus karenan di dukung oleh letaknya yang strategis dan juga permintaan masyarakat untuk mengembangkan kota Batam tidaklah berhenti.

Hanya saja, pengembangannya terhambat karena ketidak seriusan investor – investor lama yang telah memiliki HPL. Semoga Pemerintah Pusat dan Daerah bisa lebih tegas menindak para investor yang tidak melaksanakan komitmen mereka seperti yang dijanjikan saat mereka membeli HPL dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *